B
|
agi
kebanyakan para cewek (mungkin juga cowok, I
don’t know about this one), tampil oke di segala kesempatan bisa menjadi
hal yang sangat menyenangkan. Apalagi buat yang udah jadi ibu, tampil cantik
dan segar jauh dari kesan emak-emak dasteran yang kucel dan gak menarik karena habis
kerja seharian ngurusin rumah tangga bisa menjadi salah satu hal yang
menghibur.
Bagaimana enggak, setelah seharian beres-beres rumah, urus anak dan masak,
ada kalanya rasa jenuh menghampiri dan kita pingin sesuatu sebagai pengalihan dan sebuah pengakuan atas diri kita (asyeeek).
Apalagi kalau mereka udah mulai ngecek akun socmed
masing-masing deh. Lihat profil foto si A , cantik banget, foto si B, kelihatan segar, dan si C, wow!
cetar membahana. Lalu timbulah keinginan dalam hati pengin bisa tampil seperti
mereka, atau bahasa Belandanya, iri.
Buat
yang diberkahi wajah cantik, syukur Alhamdulillah
karena gak perlu poles sana-sini, muka udah kelihatan oke ya, bo! Yang punya tampang pas-pasan,
bolehlah bedakan dan lipstikan dulu baru di-cekrek.
Tapi buat yang gak punya modal apa-apa tapi pengen tampil cantik secara instan tanpa harus jadi ribet,
pilihan utamanya tinggal pake aplikasi filter wajah di ponsel.
Kalo udah gini
pasti banyak banget komentar pro-kontra tentang tampil cantik dengan cara begini. Dan
kalau boleh jujur nih, kebanyakan sih komentarnya pada nyinyir. Bla, bla, bla.... palsu lah, nipu lah, ngapain sih
aplot-aplot gambar selfie cantik,
mending cantiknya buat dilihat suami, sampe ada yang merasa bangga nampilin foto tanpa filter sebagai upaya nyindir orang lain. Lalu kemudian timbullah
rasa sebal gak jelas (khas emak-emak) lihat muka-muka cantik hasil dempulan
instan tersebut. Pokoknya bawaannya sebel aja liat foto itu. (Hayoh, siapa tuh?
Ngaku aja, tunjuk tangan!−Akuuuhhh....).
![]() |
| Raisa tanpa make up emang udah cakep. Di-touch up dikit kelihatan segar. |
Kalo menurut Ik ya, bo. Gak masalah sih
kalau kita mau pakai aplikasi filter wajah atau engga, asal jangan sampe
kelihatan lebay aja. kalo kita
pakenya wajar dan senormal mungkin dengan tujuan estetika, no problemo.
Misalnya, kita pake aplikasi filter wajah buat
hilangin muka kucel, bintik-bintik hitam, kantung mata, mata panda, atau pengen
wajah kita satu tingkat lebih cerah/lebih mulus dari wajah asli (ingat, satu
tingkat aja, ya! Maksimal dua-tiga tingkat deh, gak lebih) masih masuk akal
lah. Toh tujuannya kan cuma buat bikin wajah kelihatan segar, biar enak dilihat.
Tapi kalau pakai aplikasi filter wajah biar bikin muka kelihatan stunning kayak model-model yang ada di
sampul majalah terus kita mengharapkan komentar pujian dan dapet banyak LIKE atau LOVE, ini baru masalah. Bayangin, foto kita yang alami “dipolesin” foundation berlebihan,
kelopak matanya “dibubuhin” perpaduan warna-warna yang impossible buat dipoles sendiri, alisnya ”dibentuk” sedemikian rupa
dengan tingkat ketebalan tertentu, gak lupa pupil
mata “ditempelin” contact lens biar
kelihatan eksotik, eyeliner-nya
dibikin tebal dan melengkung biar kayak Cleopatra,
gak ketinggalan “tempelan” bulu mata palsu anti-badai, terus parahnya lagi pas unggah
dikasih hashtag #NoFilter. Terus parahnya lagi, yang diedit foto hasil jepretan kamera VGA yang banyak banget noise-nya sana-sini. Hhhmmm... kalo
udah gini berarti Jij butuh konseling sama guru BK, beneran deh.
Kayak yang
dibilang di iklan-iklan produk kecantikan. Semua wanita mendambakan kecantikan,
tapi taraf cantik bagi tiap perempuan itu bereda-beda. Ada yang berpendapat
kalau cantik itu gak mesti menor dan tebal. Cukup tampil alami dan kelihatan
segar. Ada pula kebalikannya. Cantik itu kalau wajah kita bisa kelihatan WAHHH!
Wajah
manusia itu udah diciptakan Tuhan sedemikian rupa sesuai kodratnya. Semakin
kita berumur semakin tua juga kulit kita. Kalau pun berumur tapi wajah tetap
kelihatan muda, pasti butuh perawatan. Mulai dari perawatan yang sederhana
(konsumsi makanan sehat, gak begadang, gak ngerokok, olahraga), sampe perawatan
yang butuh modal (treatment di salon
kecantikan, pake make up kualitas super, oplas pun memungkinkan). Semua itu balik
lagi sama definisi dan kebutuhan kita akan kecantikan. Dan berapa besar usaha
dan modal yang kita kerahkan untuk menjadi cantik.
![]() |
| Mbak Kimmy (panggilan sayang Ik bwt Kim Kardashian) dari tanpa make up, sampe full touch up. |
Jadi maksud
dari tulisan ini adalah engga usah lah kita saling menjatuhkan satu-sama lain atas
nama kecantikan. Gak perlu lah pake nyinyir
ke orang lain kalau kebetulan wajah kita terlihat lebih baik dari orang lain. Mungkin
aja cantiknya Jij emang gak pake ‘filter
cantik’ dari aplikasi ponsel, tapi bisa jadi cantik Jij karena pake ‘filter cantik’ dari rumah estetika, dengan kata lain, mungkin aja
cantiknya Jij hasil dari treatment
maksimal atau dengan dukungan produk-produk kecantikan kualitas super yang gak
semua orang mampu punya. Yang Mungkin
aja, tanpa itu semua wajah Jij engga akan terlihat stunning seperti sekarang. Jadi buat Jij-Jij yang bangga cantik
tanpa filter, wajah kalian yang kelihatan sangat ‘something’ bisa banget berubah jadi sangat ‘nothing’−I’m just saying.
Beruntunglah
buat yang diaksih berkah wajah cantik alami. Kita tinggal rawat itu berkah jangan
sampai pudar. Buat yang pake filter, boleh aja, asal jangan sampe berlebihan,
sewajarnya aja. Karena apa pun bentuknya, yang namanya berlebihan itu engga
bagus, apalagi berlebihan berat badan (Auch! Curcol). Buat yang cantiknya cuma pengen
dilihat suami juga silahkan, itu keputusan Jij. Tapi jangan juga nyinyir sama orang yang seneng tampil di
socmed. Soalnya banyak juga nih yang begini, gak eksis dengan alasan "kepercayaan" tapi juga hobi nyinyirin orang. Kalau komitmen Jij seperti itu
silahkan, tapi jangan sampe ganggu komitmen orang lain.
Tapi tentu aja semua tulisan ini cuma pendapat pribadi Ik sebagai penulis dan pemilik blog. Kalo ada di antara Jij yang punya pendapat yang beda sama tulisan ini, aku rapopo. Ik terima semua perbedaan itu dengan lapang(an) bola. Karena pada dasarnya perbedaan itu indah. Iya, kan.
Tapi tentu aja semua tulisan ini cuma pendapat pribadi Ik sebagai penulis dan pemilik blog. Kalo ada di antara Jij yang punya pendapat yang beda sama tulisan ini, aku rapopo. Ik terima semua perbedaan itu dengan lapang(an) bola. Karena pada dasarnya perbedaan itu indah. Iya, kan.
Yuk,
mareeehhh...
-androgenie-



Komentar
Posting Komentar